Tampilkan postingan dengan label Hikmah Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Januari 2015

Hasan al-Basri

Suatu ketika Hasan al-Basri berjumpa dengan 3 orang anak muda yang sedang tertawa bahkan kadangkala terbahak-bahak. Lalu ia-pun bertanya kepada mereka:

Hasan al-Basri: Apakah kalian tahu apa yang akan terjadi pada kalian esok ?

3 anak muda: Tidak

Hasan al-Basri: Apakah kalian tahu bagaimana rasanya sakratul maut yang akan kalian hadapi nanti ?

3 anak muda: Tidak

Hasan al-Basri: Apakah kalian tahu fitnah apa yang akan terjadi di masa hidup ataupun mati kalian, dan apa yang akan kalian lakukan untuk menghadapinya ?

3 anak muda: Tidak

Hasan al-Basri: Apakah kalian tahu bagaimana kalian menjawab pertanyaan Malaikat Munkar & Nakir di alam kubur nanti ?

3 anak muda: Tidak

Apakah kaliah tahu bagaimana dahsyatnya huru hara hari pembalasan nanti ?

3 anak muda: Tidak

Hasan al-Basri: Dan ketika hari perhitungan dimulai, kalian berdiri di depan mizan/timbangan amal kalian; apakah kalian tahu kalian masuk ke golongan yang mana ? orang-orang yang beruntungkah ? atau orang-orang yang merugi ?

3 anak muda: Tidak, kami tidak tahu

Hasan al-Basri: Jadi, mengapa kalian masih bisa tertawa terbahak-bahak sedangkan di depan kalian telah menanti hal-hal dahsyat dan mengerikan yang kalian sendiri belum tahu apa yang akan menimpa kalian ...?

Ketiga anak muda itupun menangis setelah mendengar penjelasan Hasan al-Basri.

Hassan al-basri:-
" Orang yang menyadari bahwa dia pasti akan menemui mati dan selalu ingat bahwa kiamat itu telah dijanjikan-Nya, serta dirinya pastilah akan dimintai pertanggungjawaban atas segala yang ia lakukan di setiap nafasnya maka pastilah ia akan banyak sekali menangis dan lupa untuk tertawa".

Memandang Hidup dari Lobang Jarum


Bismillahirrahmaanirrahiim

Assalamu
alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Bagaimanakah jadinya, apabila kita memandang hidup seperti melihat lobang jarum?

Ungkapan dari bahasa Arab
"Tsaqbulibrah" (lobang jarum). Bisa kita membayangkan, betapa picik dan sempitnya dunia ini, apabila seseorang melihat dunia yang luas ini dari lobang jarum yang kecil itu.

Bagaimana, sampai bisa terjadi sikap seseorang semacam ini, apakah tanda-tandanya?

Tanda-tandanya, gampang saja. Dia merasa pendapatnya sajalah yang benar (pendapat tanpa argument, atau dalil, tentu yang dimaksudkan disini, kalau sudah ada dalil dari AlQuran dan Assunnah, tentu bukan pendapatnya yang dikemukakannya, tetapi dari Allah SWT dan RasulNya).
Dan tidak memahami/memandang pendapat orang lain disekitarnya yang mana apabila pendapat sekitarnya juga berdalil AlQuran dan Assunnah juga, dia masih saja tetap bersikeras, bahwa apa yang dikatakannya, itulah yang benar.

Tentu tidak salah, apabila seseorang mengatakan dia benar, sepanjang semua itu berasal dari AlQuran dan hadits, karena bagaimanapun Kebenaran itu datangnya dari Allah SWT , maka janganlah kamu menjadi orang-orang yang ragu akan kebenaran tersebut.

Yang sulit, dan yang salah, adalah mereka tak memiliki dalil, kecuali memakai akalnya saja, bersikeras dengan pendapatnya tersebut, dia merasa, dia benar. Orang semacam inilah yang bisa dikatakan memandang hidup hanya dari lobang jarum yang kecil.
Hanya memakai kasat matanya saja.

Dia berjalan bagaikan kereta api yang tidak berhenti,(kecuali dihalte). Tak memandang kanan kirinya, jalan terus dengan perjalanan relnya, tak mau tahu, apakah ada manusia yang akan ditabraknya didepan rel tersebut, dia akan tetap jalan sesuai dengan relnya

Cobalah kita letakkan jarum kecil itu di jemari kita, kemudian, kita mencoba melihat sesuatu diluar sana dari lobang tersebut, apakah yang terlihat oleh kita, seberapa besar dan jauhkah pandangan mata kita melihat dari lobang jarum tersebut. Paling-paling yang terlihat gelap gulita, bintik kecil.

Nah, semacam itulah hidup manusia, apabila dia memandang kehidupan ini, begitu sempit, sehingga ia akan gampang putus asa, resah dan gelisah, gelap, seakan tak ada cahaya matahari yang akan menyinarinya dalam kegelapannya itu. Memiliki problema sedikit saja dalam kehidupan sudah down, putus asa, menyalahkan orang disekelilingnya, orang lainlah penyebab kegagalan dalam hidupnya, orang lainlah yang menyebabkan dia begini dan begitu. Selalu melemparkan kesalahan dimuka orang lain, tanpa pernah mau mengoreksi diri sendiri, ada apa, dan kenapa. Bahkan tak jarang su'udzhan (buruk sangka) dengan manusia lainnya, apalagi dengan Allah SWT, dengan menyalahkan takdirnya yang buruk itu.

Mungkin, ini jugalah yang dikatakan pepatah orang tua zaman dahulu kala : Dunia tak selebar daun kelor.

Dunia ini akan luas apabila cara dan arah pandang kita juga luas, dan dia akan serasa sempit, apabila cara dan arah memandang kita juga sempit. Oleh karena itu, jangan pernah memandang hidup ini dari lobang jarum semata, tetapi pergunakanlah mata nyata, mata hati, akal, nurani, telinga, dan yang terpenting adalah selalulah menyadari ada yang memperhatikan kita diatas sana, yakni Allah Subhanahu Wata'ala.


"Sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lainnya".

Wasssalamu'alaikum. 

Kisah Nyata Gadis berumur 10 tahun bernama Bar`ah



Ini adalah kisah gadis berumur 10 tahun bernama Bar`ah, yang orangtuanya dokter dan telah pindah ke Arab Saudi untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Pada usia ini, Bar `ah menghafal seluruh Al Qur'an dengan tajweed, dia sangat cerdas dan
gurunya mengatakan bahwa dia sudah maju untuk anak seusianya.

Keluarganya kecil dan berkomitmen untuk Islam dan ajaran-ajarannya ... . hingga suatu hari ibunya mulai merasa sakit perut yang parah dan setelah beberapa kali diperiksakan diketahuilah ibu bar’ah menderita kanker, dan kanker ini sudah dalam keadaan stadium akhir/kronis.

Ibu bar’ah berfikir untuk memberitahu putrinya, terutama jika ia terbangun suatu hari dan
tidak menemukan ibunya di sampingnya ... dan inilah ucapan ibu bara’ah kepadanya "Bar`ah aku akan pergi ke surga di depan Anda, tapi aku ingin kamu selalu membaca Al-Quran dan menghafalkannya setiap hari karena Ia akan menjadi pelindungmu kelak... "

Gadis kecil itu tidak benar-benar mengerti apa yang ibunya berusaha beritahukan ,
Tapi dia mulai merasakan perubahan keadaan ibunya, terutama ketika ia mulai dipindahkan ke rumah sakit untuk waktu yang lama. Gadis kecil ini menggunakan waktu sepulang sekolahnya untuk menjenguk ibunya ke rumah sakit dan membaca Quran untuk ibunya sampai malam sampai ayahnya datang dan membawanya pulang.

Suatu hari pihak rumah sakit memberitahu ayah bar’ah bahwa kondisi istrinya itu sangat buruk dan ia perlu datang secepat dia bisa melalui telfon, sehingga ayah bar’ah menjemput Bar `ah dari sekolah dan menuju ke rumah sakit. Ketika mereka tiba di depan rumah sakit ia memintanya untuk tinggal di mobil ... sehingga ia tidak akan shock jika ibunya meninggal dunia.

Ayah keluar dari mobilnya, dengan penuh air mata di matanya, ia menyeberang jalan untuk masuk rumah sakit, tapi tiba-tiba datang sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ayah bar’ah dan ia meninggal seketika di depan putrinya itu...tak terbayangkan ..tangis gadis kecil ini pada saat itu...!

Tragedi Bar`ah belum selesai sampai di sini... berita kematian ayahnya yang disembunyikan dari ibu bar’ah yang masih opname di rumah sakit, namun setelah lima hari semenjak kematian suaminya akhirnya ibu bar’ah meninggal dunia juga. Dan kini gadis kecil ini sendirian tanpa kedua orangtuanya , dan oleh orangtua teman-teman sekolah bar’ah memutuskan untuk mencarikan kerabatnya di Mesir, sehingga kerabatnya bisa merawatnya.

Tak berapa lama tinggal di mesir gadis kecil Bar `ah mulai mengalami nyeri mirip dengan ibunya dan oleh keluarganya ia lalu di periksakan , dan setelah beberapa kali tes di dapati bar’ah juga mengidap kanker ... tapi sungguh mencengangkan kala ia di beritahu kalau ia menderita kanker....inilah perkataan bar’ah kala itu: "Alhamdu lillah, sekarang aku akan bertemu dengan kedua orang tua saya."

Semua teman-teman dan keluarga terkejut. Gadis kecil ini sedang menghadapi musibah yang bertubi-tubi dan dia tetap sabar dan ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah untuknya!.....Subhanallah

Orang-orang mulai mendengar tentang Bar `ah dan ceritanya, dan Saudi memutuskan untuk mengurus nya ... ia mengirimnya ke Inggris untuk pengobatan penyakit ini.

Salah satu saluran TV Islam (Al Hafiz - The pelindung) mendapat kontak dengan gadis kecil ini dan memintanya untuk membaca Quran ... dan ini adalah suara yang indah yang di lantunkan oleh bar’ah ...

http://www.youtube.com/watch?v=NnNS9ID9Ecw
Link Bar'ah recited

Mereka menghubungi lagi Bar’ah sebelum ia pergi ke Coma(nama kota) dan dia berdoa untuk kedua orangtuanya dan menyanyikan Nasheed ...

http://www.youtube.com/watch?v=yD5S-jtxFls
Link Bar'ah Nasheed

Hari-hari terlewati dan kanker mulai menyebar di seluruh tubuhnya, para dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya, dan ia telah bersabar dengan apa yang ditetapkan Allah baginya ... tapi beberapa hari setelah operasi amputasi kakinya kanker sekarang menyebar ke otaknya, lalu oleh dokter memutuskan untuk melakukan operasi otak ... dan sekarang bar’ah berada di sebuah rumah sakit di Inggris menjalani perawatan

Silakan berdoa untuk Bar’ah, dan bagi saudara-saudara kita di seluruh dunia.

Video bar'ah lainnya .. .

http://www.youtube.com/watch?v=gkIO02s6Ywg
Link Bar'ah recited

Ibu ku bermata satu



Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di sekolah, untuk membiayai keluarga. Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan melarikan. Keesokan harinya di sekolah

“Ibumu hanya punya satu mata?!?!” Ieeeeee, jerit seorang temanku. Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu, “Bu. Mengapa Ibu tidak punya satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!” Ibuku tidak menyahut.

Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.

Malam itu..

Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya.

Saya memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi,
hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.

Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu.

Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak.

Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku.

Kebahagian ini bertambah terus dan terus, ketika..

Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Masih dengan satu matanya. Seakan-akan
langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri
melihat mata Ibuku. Kataku, “Siapa kamu?! Aku tak kenal dirimu!!” Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya, “Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku! !” “KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!”

Ibuku hanya menjawab perlahan, “Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat,” dan ia pun berlalu. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega.

Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega.

Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura.

Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana .. Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja. Di sana , kutemukan ibuku tergeletak dilantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku.

“Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang.. Dan..aku tidak akan pergi ke Singapura lagi..

Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau.. Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku.

Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata. Maka aku berikan mataku untukmu. Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, ditempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu.

Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, “Itu karena ia mencintaiku” Anakku! Oh, anakku!”

Pesan ini memiliki arti yang mendalam dan disebarkan agar orang ingat
bahwa kebaikan yang mereka nikmati itu adalah karena kebaikan orang lain secara langsung maupun tak langsung. Berhentilah sejenak dan renungi hidup Anda!

Bersyukurlah atas apa yang Anda miliki sekarang dibandingkan apa yang tidak dimiliki oleh jutaan orang lain! Luangkan waktu untuk mendoakan ibu Anda!

Nek Karim



“Nek Karim masuk rumah sakit, Rika!”

Suara Bunda yang panik membuatku nyaris melompat dari tempat dudukku.

“Sakit apa, Bunda? Rumah sakit mana?”

“Itulah yang membuat Bunda bingung. Ayahmu belum pulang, sementara….”

“Bunda…Bunda…jangan biarkan ini terjadi….Bunda….kita harus bertindak.”

“Maafkan Bunda sayang, Bunda tidak kuasa.”

Mendengar kalimat Bunda, aku pun terduduk kembali. Lemas.

Esok harinya kuperoleh kabar menyakitkan itu. Nek Karim masuk rumah sakit milik sebuah yayasan nasrani.

Kupandangi dengan sedih tubuh kurus Nek Karim dengan berbagai selang yang melilit. Mata Nek Karim yang mengatup, tak sedetik pun terbuka. Syukurlah, dengan begitu, Nek Karim tak perlu menatap salib yang tergantung tepat di depan ranjang, yang akan segera tertangkap penglihatan, andaikan mata tua itu terbuka. Hatiku menjerit. Nek Karim muslim, mengapa harus berada di ruangan ini? Mengapa benda itu harus tetap tergantung di hadapannya?

Bunda membisikkan sesuatu yang menggetarkan hati. “Perasaan Bunda, Nek Karim tidak sakit biasa, Rika.”

Aku memandang Bunda dengan sorot mata penuh sejuta tanya.

“Bunda sering menemani akhir hidup orang-orang yang hendak menghadap Allah. Sepertinya….”

Bunda memang tidak melanjutkan kalimatnya. Namun aku sudah sangat paham ke mana arah pembicaraan itu. Nek Karim tidak pernah mengeluh sakit. Pagi hari sebelum terkulai pingsan pun beliau masih sibuk memasak makanan kesukaan suaminya.

Nek Karim. Keluargaku tak ada hubungan darah dengannya. Namun pertalian iman memang fondasinya lebih kuat dibanding pertalian berdasarkan ikatan kekerabatan. Nek Karim adalah seorang muallaf. Sementara kelima putranya semua penganut Trinitas.

Belum genap sepuluh tahun Nek Karim bersama suaminya mengucapkan syahadat. Namun demikian, percepatan yang Nek Karim perlihatkan sungguh menakjubkan. Beliau seringkali bertindak lebih islami dibandingkan dengan orang yang memeluk Islam sejak kecil. Ghiroh-nya untuk berjuang di jalan Allah seringkali mendecakkan kagumku atas kuasa-Nya. Subhanallah! Untung saja, kelima putranya bukan termasuk nasrani yang taat, sehingga mereka tidak pernah mengusik keberagamaan orang tuanya. Lagi pula, hanya satu yang tetap tinggal sekampung dengan Nek Karim.

Sekarang Nek Karim sakit. Sakit yang tidak biasa. Sakit yang Bunda perkirakan hanya sebagai lantaran menghadapnya Nek Karim kepada Allah. Sakit yang sulit dideteksi, sehingga para dokter pun angkat tangan. Tapi mengapa, Nek Karim masih dipertahankan untuk dirawat di rumah sakit? Untuk apa? Berbagai praduga buruk pun lantas berseliweran di kepalaku. Cerita tentang orang meninggal yang diperebutkan cara perawatan jenazahnya karena keluarganya berbeda agama membuatku bergidik. Nek Karim muslim, apakah ada yang hendak memalingkannya dari kebenaran agama tauhid?

“Bunda, kenapa Nek Karim dibiarkan sendirian bersama pastur itu? Bagaimana jika nanti Nek Karim dikafirkan?” Aku nyaris terisak. Aku tak melepaskan mataku pada Pastur setengah tua yang sedang membelai-belai tubuh Nek Karim yang terbungkus selimut. Samar-samar, karena gorden jendelanya pun diturunkan. Ini tak boleh dibiarkan. Ini harus dihentikan! Aku tak rela Nek Karim dikembalikan kepada agamanya semula. Beberapa kali kusaksikan hal-hal yang mengkhawatirkan bagi iman Nek Karim di rumah sakit ini.

“Ustadz, kalau Nek Karim sampai berhasil dikafirkan menjelang ajalnya, kita turut bertanggung jawab.”

“Pak, sesama muslim itu bersaudara. Kita harus menyelamatkan Nek Karim!”

“Ayah kan pandai melobi, bergerak, dooong!!”

Aku terus bicara, pada Ayah, pada Pak Kadus, pada Pak RT, kepada kakak, dan pasti juga Bunda. Akidah Nek Karim harus diselamatkan!

ooOoo

Sore itu. Sinar sang mentari sudah tidak menyengat, udara berangsur dingin. Aku menarik nafas lega ketika menyaksikan sebuah ambulans memasuki kampungku. Ambulans berisi Nek Karim, yang atas lobi beberapa pemuka kampung diperbolehkan pulang oleh dokter, dan anak-anaknya pun tak bisa berbuat banyak. Namun, bagaimanapun juga aku tahu, perjuangan ini belum berakhir. Kesadaran Nek Karim belum pulih. Seminggu di rumah sakit tidak berpengaruh apa-apa terhadap kondisinya, bahkan kulihat semakin lemah. Tentu saja, karena paramedis di rumah sakit itu memperlakukan Nek Karim sebagai pasien biasa, bukan sebagai orang yang bersiap-siap untuk menghadap Tuhan. Mungkin juga, Nek Karim justru tersiksa berada dalam perawatan orang-orang itu. Orang-orang yang mengajarkan apa-apa yang pasti diingkari oleh nurani Nek Karim. Lagu rohani yang diputar tiap pagi, lonceng kecil yang dibunyikan dua kali sehari……

“Rika, sudah siap?”

Aku merapikan jilbabku dengan cepat. Kuambil Al Qur’an kecil dari meja belajarku. Kuikuti langkah Bunda yang sudah hampir mencapai pintu. Hari ini, aku dan Bunda bersama beberapa teman pengajian Bunda di majelis taklim hendak menengok Nek Karim, sekaligus membacakan surat At Taubah, surat Yasin, dan Ar Ra’du. Agar memudahkan jalan Nek Karim untuk menghadap Allah, ataupun menyembuhkan sakitnya, ataupun menguatkan iman Nek Karim dalam menghadapi musibah sakitnya.

“Puji Tuhan…”

Aku tertegun di depan pintu. Langkah Bunda dan para Ibu juga seketika terhenti. Ada pendeta yang sedang mendo’akan Nek Karim. Hatiku bergejolak. Apa ini maksudnya?

“Assalamu’alaikum.” Aku memberanikan diri. Salam itu kuucapkan pada Nek Karim, entah mengapa aku yakin beliau masih bisa mendengar. Salam itu juga pertanda kehadiranku. Aku ingin agar pendeta itu segera mengakhiri do’anya. Syukurlah, pendeta yang berambut tipis itu cukup tahu diri. Dia segera menurunkan salibnya dari badan Nek Karim, dan segera keluar dari ruangan.

Malam ini gelap gulita. Jika aku berada pada posisi anak Nek Karim, barangkali aku pun akan melakukan tindakan yang sama. Setiap orang yang beragama, pastilah dia meyakini akan kebenaran agama yang dipeluknya. Pastilah anak-anak Nek Karim menganggap bahwa Ibunya akan masuk neraka bila tetap berada dalam iman Islamnya. Hal tersebut tentu tak bisa disalahkan. Upaya mereka untuk mengembalikan Ibunya dalam iman yang ?benar’, kebenaran sejati menurut versi mereka, wajar-wajar saja.

Kupandangi sang purnama yang bersinar bulat. Namun aku sebagai muslim, sebagai orang yang yakin betul akan satu-satunya kebenaran, Islam sebagai jalan keselamatan tunggal, tentu tidak boleh tinggal diam. Bagaimanapun, perbuatan anak Nek Karim bisa dikategorikan tidak fair. Nek Karim sudah dalam kondisi tidak berdaya, bahkan mungkin sudah tidak dalam kesadaran penuh. Ini negara yang menjunjung hak asasi manusia, termasuk di dalamnya kebebasan beragama. Meskipun berstatus anak, tak ada hak sedikitpun dalam diri mereka untuk mengubah keyakinan Nek Karim.

“Rika mau menjaga Nek Karim malam ini, Bunda.”

“Bagaimana kalau anak-anak Nek Karim tidak setuju?”

“Apakah mereka akan berani? Mereka juga kan menjadi Kristen hanya karena korban kristenisasi. Keluarga besar Nek Karim kan mayoritas muslim, Bunda.”

“Baiklah kalau begitu. Hati-hati membawa diri, jangan membuat masalah. Jangan bersikap keras!”

“Insya Allah Rika sudah paham, Bunda. Islam kan rahmatan lil ?alamin.”

Bunda tersenyum, lantas mengelus kepalaku lembut. Akupun berangkat ke rumah Nek Karim dengan perasaan lega.

Alhamdulillah, pada akhirnya usulku diperhatikan oleh orang-orang yang lebih dewasa dariku. Jangan sampai sedetik pun Nek Karim dibiarkan lengah dari pengawasan saudara seiman. Nek Karim sangat baik, aku berharap akhir hidupnya pun khusnul khatimah. Jadilah Bunda, Ayah, aku, Kak Wita, teman-teman Bunda dan Ayah, para tetangga, bergantian menjagai Nek Karim.

Malam ini sungguh senyap. Aku baru saja menyelesaikan surat At Taubahku. Kuletakkan mushaf di meja samping ranjang. Kucium pipi keriput Nek Karim. Aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak menetes. Kucium lagi pipinya, lalu tangannya. Tangan itu yang sering memberikanku makanan, membuatkan roti bolu kesukaanku. Tangan itu yang melambai-lambai setiap aku berjalan di depan rumahnya. Tangan itu pula yang mengelus pipiku, lalu bibirnya berkata’ “Jadilah cucu Nenek yang sholihat. Do’akan terus kalau Nenek sudah meninggal. Nenek tidak bisa berharap dari anak-anak Nenek, juga dari cucu-cucu Nenek.”

Tak hanya tangannya, kaki Nek Karim pun kupeluk. Kaki itu yang melangkah ke masjid. Kaki itu yang meskipun tertatih, melangkah ke rumahku, ke rumah Bude Sri, ke tempat orang-orang yang disayanginya, untuk menghantarkan makanan, untuk bersilaturrahim. Kaki itu yang terlihat begitu ringan melangkah ke majelis ta’lim, mendatangi orang yang sedang punya hajat, orang yang dirundung duka atas kematian anggota keluarganya. Subhanallah, sepasang kaki yang insya Allah penuh barokah.

Siang itu panas menyengat. Aku berjalan dengan tergesa. Kulihat bendera putih melambai dari perempatan jalan menuju rumah Nek Karim. Apakah….

Pertanyaan di hatiku terjawab, hanya setelah sepuluh menit aku menjejakkan lima belas langkah lebarku. Kulihat Bunda di depan rumah Nek Karim, juga beberapa orang yang sedang sibuk menggelar tikar, mengatur kursi-kursi, atau melakukan pekerjaan lain.

Aku mencium tangan Bunda, Bunda pun memelukku. Kutatap mata Bunda. “Bagaimana?” Aku bertanya dengan suara berbisik.

Bunda tersenyum? dengan sorot mata yang penuh cahaya. “Insya Allah khusnul khotimah, Rika.”

Aku menarik nafas dalam-dalam penuh kelegaan. “Bunda menunggui saat-saat terakhir Nenek?”

“Alhamdulilah.”

Dibimbing Bunda, aku menuju kamar di mana jenazah Nek Karim disemayamkan.

Tubuh itu terbujur kaku, tidak bergerak lagi. Aku masih ingin berlama-lama di ruangan ini. Sholat jenazah sudah selesai kutunaikan. Selanjutnya aku masih ingin berdo’a, berdzikir, dan membaca Al Qur’an. Aku tahu Nek Karim sudah tiada, aku sudah tidak bisa lagi mengajaknya bicara, aku tidak bisa lagi mendengar petuah-petuahnya, aku tidak bisa lagi menatap binar rindunya kepada Sang Pencipta, aku tidak bisa lagi merasai lembutnya sentuhan tangan penuh kasih itu. Namun kedamaian saat bersama Nek Karim masih terasa hangat di hatiku.

“Gantian ya, Mbak.”

Suara itu. Hatiku berdesir. Suara anak-anak Nek Karim. Kuberikan seulas senyum. Mungkin mereka juga hendak mendo’akan Ibunya, tentu saja dengan cara mereka.? Kulihat lagi pendeta berambut tipis itu, kali ini dia tidak membawa salibnya.

Aku berjalan keluar. Sesampai di pintu, aku menoleh lagi. Jenazah yang ditutupi kain jarik itu. Nek Karim…akhirnya engkau pergi menghadap-Nya. Satu pelajaran berharga telah kau tinggalkan untukku, Nek. Kau telah banyak berbuat, kau maksimalkan apapun yang kau punya, apapun yang kau bisa, untuk kemanfaatan umat. Sedang aku? Apa yang telah kupersiapkan untuk menyongsong saat yang sudah pasti akan tiba itu?

Nek Karim. Sosoknya kembali nyata di benakku. Air mataku kembali menetes.

[diambil dari Majalah PERMATA edisi 09/Tahun VII/Desember 2002

Total Tayangan Halaman

Our Partners

Dewan Eksekutif Wilayah 1

FulDFK

detikhealth